SYMPATHY FOR THE VICTIMS
Belakangan, berita tentang perkosaan merebak dimana-mana. Setelah kasus demi kasus di India. Sekarang ramai (dugaan) kasus 'lokal' yang melibatkan sastrawan yang cukup terkenal. Kasus perkosaan, atau dugaan perkosaan selalu menjadi topik yang panas. Bahkan kadang bisa-bisa lebih panas dari kasus-kasus lain. Mendadak, ada begitu banyak pihak yang merasa layak angkat suara. Membela, atau menuduh, atau menduga tumpang tindih sebelum akhirnya 'hukum' memutuskan. Namun lebih seringnya, sang korban akan berakhir sebagai korban. Saya sendiri bukan orang yang ingin dan merasa layak menghakimi salah satu pihak.
Tapi perkosaan mengingatkan saya saat kecil dulu ada film berjudul "Perawan Desa" (1978), pemainnya Yati Surachman. Film itu diangkat dari kisah Sumarijem alias Sum Kuning, perempuan penjual telur dari Godean, yang diperkosa secara bergilir oleh anak seorang tokoh masyarakat dan teman-temannya. Pengakuan Sum tak digubris - klise - dan dianggap tak benar. Belakangan seorang penjual bakso keliling dipaksa mengakui kalau dialah pelakunya. Tentu saja saya tidak nonton, lantaran perkosaan adalah topik terlarang bagi anak perempuan yang masih kecil. Saya hanya mengintip tentang film itu dari halaman majalah.
Sepuluh tahun kemudian, ketika "The Accused" (1988) beredar , saya lagi-lagi masih dianggap belum cukup umur untuk menonton Jodie Foster diperkosa di atas meja pin ball, oleh sederetan laki-laki. Terpaksa nonton diam-diam. Dan memang harus diakui, adegannya mengerikan. Belum lagi 'tuduhan' bagi Sarah Tobias yang diperankan Foster adalah seorang perempuan dengan pendidikan rendah, penggoda dan semi mabuk saat diperkosa, tambahan faktor busana yang dituduh sebagai salah satu pemicu perkosaan membuat saya makin mual. Perjuangan Sarah dengan pengacaranya, Kathryn Murphy (Kelly McGillis) mengejar kebenaran dan keadilan yang ditampilkan di film ini benar-benar membuat gemas dan mempermainkan emosi.
Saya, tentu saja bukan pakar kriminal, atau kasus-kasus sosial. Tapi, kadang saya geregetan, dan berharap korban akan seberani Sarah Tobias, atau bahkan kalau perlu lebih ekstrem : mengadili pelakunya sendiri, seperti yang dilakukan Jennifer Spencer (Sondra Locke) dalam "Sudden Impact" (1983). Di salah satu serial detektif terkenal Dirty Harry (Clint Eastwood) ini, Jennifer dan adiknya diperkosa segerombolan orang secara bergilir di sebuah pasar malam. Sang adik berakhir di rumah mental, Jennifer berakhir membawa dendam. Ia membidik pemerkosanya satu per satu tanpa ampun. Dan seperti di kasus Sum atau "The Accused", salah satu pemerkosa juga anak dari keluarga baik-baik.
Berbeda dengan Sum atau Sarah Tobias, Jennifer tak percaya hukum. Ia tak sabar menanti keadilan diberikan kepadanya, dan untuk adiknya yang digambarkan dengan jelas sudah tak memiliki masa depan itu. Menghabisi pemerkosanya satu per satu adalah cara paling adil yang bisa ia pikirkan. "Sudden Impact" sendiri berakhir bukan sebagai drama yang mengharu biru, namun sebagai film thriller yang menegangkan. Seorang perempuan mungil dan tampak ringkih mendatangi dan mencoba membantai satu per satu pemerkosanya sebenarnya bukan pemandangan yang membuat nyaman perasaan.
Begitu pula ketika kita melihat seorang pemerkosa dinyatakan tak bersalah dengan mudah, seperti yang bisa dilihat di "Lipstick" (1976) - salah satu film tentang perkosaan yang terkenal. Berkisah tentang model cantik Chris McCormick (Margaux Hemingway) yang diperkosa oleh Gordon Stuart (Chris Sarandon) guru musik adiknya sendiri, Kathy (Mariel Hemingway). Yang sangat memalukan dan menyakitkan, Kathy adiknya yang inosen menyaksikan perkosaan tersebut. Chris lantas mencari pengacara yang ia percaya bisa memberinya keadilan. Caria Bondi (Anne Bancroft) pengacara yang membelanya, dari awal memberinya pil pahit. Bahwa kemungkinan ia akan kalah, karena sebelum perkosaan, Chris yang keluar dari shower tanpa mengenakan apapun bisa dianggap pemicu.
"Lipstick" bukanlah film yang luar biasa. Tapi film ini jujur. Menggambarkan stigma korban perkosaan seperti yang dituduhkan banyak orang, bahwa sang korbanlah yang memicu, yang menggoda, yang menginisiasi. Padahal (pikiran) iblis tak mengenal jenis busana, tempat, waktu...seharusnya. Betapa dunia sering kali tak adil bagi kaum Hawa. Kadang nyaris tak ada simpati, atau empati, apalagi keadilan, atau minimal : kebenaran. Lalu, saya bertanya-tanya, apakah kasus-kasus perkosaan seperti ini tetap saja membuat kita pesimis? Ini bukan fiksi kan?
Tapi perkosaan mengingatkan saya saat kecil dulu ada film berjudul "Perawan Desa" (1978), pemainnya Yati Surachman. Film itu diangkat dari kisah Sumarijem alias Sum Kuning, perempuan penjual telur dari Godean, yang diperkosa secara bergilir oleh anak seorang tokoh masyarakat dan teman-temannya. Pengakuan Sum tak digubris - klise - dan dianggap tak benar. Belakangan seorang penjual bakso keliling dipaksa mengakui kalau dialah pelakunya. Tentu saja saya tidak nonton, lantaran perkosaan adalah topik terlarang bagi anak perempuan yang masih kecil. Saya hanya mengintip tentang film itu dari halaman majalah.
Sepuluh tahun kemudian, ketika "The Accused" (1988) beredar , saya lagi-lagi masih dianggap belum cukup umur untuk menonton Jodie Foster diperkosa di atas meja pin ball, oleh sederetan laki-laki. Terpaksa nonton diam-diam. Dan memang harus diakui, adegannya mengerikan. Belum lagi 'tuduhan' bagi Sarah Tobias yang diperankan Foster adalah seorang perempuan dengan pendidikan rendah, penggoda dan semi mabuk saat diperkosa, tambahan faktor busana yang dituduh sebagai salah satu pemicu perkosaan membuat saya makin mual. Perjuangan Sarah dengan pengacaranya, Kathryn Murphy (Kelly McGillis) mengejar kebenaran dan keadilan yang ditampilkan di film ini benar-benar membuat gemas dan mempermainkan emosi.
Saya, tentu saja bukan pakar kriminal, atau kasus-kasus sosial. Tapi, kadang saya geregetan, dan berharap korban akan seberani Sarah Tobias, atau bahkan kalau perlu lebih ekstrem : mengadili pelakunya sendiri, seperti yang dilakukan Jennifer Spencer (Sondra Locke) dalam "Sudden Impact" (1983). Di salah satu serial detektif terkenal Dirty Harry (Clint Eastwood) ini, Jennifer dan adiknya diperkosa segerombolan orang secara bergilir di sebuah pasar malam. Sang adik berakhir di rumah mental, Jennifer berakhir membawa dendam. Ia membidik pemerkosanya satu per satu tanpa ampun. Dan seperti di kasus Sum atau "The Accused", salah satu pemerkosa juga anak dari keluarga baik-baik.
Berbeda dengan Sum atau Sarah Tobias, Jennifer tak percaya hukum. Ia tak sabar menanti keadilan diberikan kepadanya, dan untuk adiknya yang digambarkan dengan jelas sudah tak memiliki masa depan itu. Menghabisi pemerkosanya satu per satu adalah cara paling adil yang bisa ia pikirkan. "Sudden Impact" sendiri berakhir bukan sebagai drama yang mengharu biru, namun sebagai film thriller yang menegangkan. Seorang perempuan mungil dan tampak ringkih mendatangi dan mencoba membantai satu per satu pemerkosanya sebenarnya bukan pemandangan yang membuat nyaman perasaan.
Begitu pula ketika kita melihat seorang pemerkosa dinyatakan tak bersalah dengan mudah, seperti yang bisa dilihat di "Lipstick" (1976) - salah satu film tentang perkosaan yang terkenal. Berkisah tentang model cantik Chris McCormick (Margaux Hemingway) yang diperkosa oleh Gordon Stuart (Chris Sarandon) guru musik adiknya sendiri, Kathy (Mariel Hemingway). Yang sangat memalukan dan menyakitkan, Kathy adiknya yang inosen menyaksikan perkosaan tersebut. Chris lantas mencari pengacara yang ia percaya bisa memberinya keadilan. Caria Bondi (Anne Bancroft) pengacara yang membelanya, dari awal memberinya pil pahit. Bahwa kemungkinan ia akan kalah, karena sebelum perkosaan, Chris yang keluar dari shower tanpa mengenakan apapun bisa dianggap pemicu.
"Lipstick" bukanlah film yang luar biasa. Tapi film ini jujur. Menggambarkan stigma korban perkosaan seperti yang dituduhkan banyak orang, bahwa sang korbanlah yang memicu, yang menggoda, yang menginisiasi. Padahal (pikiran) iblis tak mengenal jenis busana, tempat, waktu...seharusnya. Betapa dunia sering kali tak adil bagi kaum Hawa. Kadang nyaris tak ada simpati, atau empati, apalagi keadilan, atau minimal : kebenaran. Lalu, saya bertanya-tanya, apakah kasus-kasus perkosaan seperti ini tetap saja membuat kita pesimis? Ini bukan fiksi kan?




Comments
Post a Comment