BOS DARI NERAKA #1
Bukankah (nyaris) selalu begitu? Kebanyakan bos memang lulusan atau masih jadi penghuni neraka jahanam? Mereka biasanya akan memerintah dan menyiksa kita demi kepentingan dan 'kebahagiaan' mereka. Sementara, kita mau tak mau menjadi budak mereka, lantaran pada saat yang sama butuh uang, dan pekerjaan, dan mungkin juga status sosial lainnya. Saya sendiri, entah berapa kali menyerah dari bos-bos jebolan neraka ini. Dengan sombong, saya bilang pada diri saya sendiri, kalau harga diri saya lebih tinggi ketimbang gaji yang mereka berikan. Meski, saya berakhir semi melarat, tapi setidaknya harga diri saya tetap cukup mahal. Konyol? Mungkin.
Tapi ini kisah klasik. klise dan klasik. Saya rasa hampir semua pegawai atau mantan pegawai pernah mengalaminya. Jauh sebelum "Devil Wears Prada"(2006) atau "Horrible Bosses" (2011), kisah-kisah tentang bos licik, kejam, psycho, manipulatif, eksploitatif sudah menyelip diantara deretan film lain. Saya pernah punya bos perempuan yang licik, manipulatif dan curang mirip di film Working Girl (1988). Katharine Parker (Sigourney Weaver), seorang perempuan muda yang sudah jadi bos.
Suatu kali sang bos kecelakaan saat berlibur main ski, dan Tess yang ditugaskan mengurus pekerjaan, tanpa sengaja melihat sebuah file penting. Penting lantaran itu idenya yang diklaim oleh Katharine. Tess mendadak mengumpulkan keberanian untuk melawan bosnya dengan mempresentasikan idenya itu... sendiri? Tidak juga, lantaran ia bertemu Ted Trainer (Harrison Ford), pegawai dari firma tetangga yang juga berkepentingan membuat deal yang sempat ditawarkan oleh Katharine. Ini membuat seolah melakukan balas dendam yang sempurna, lantaran Ted juga punya hubungan agak spesial dengan Kat.
Tentu saja pengalaman pribadi saya tak sedramatis ini. Tapi bos hobi mengklaim ide bukan sekali dua kali saya temui. Dengan kekuasaan yang mereka miliki, relasi yang jauh lebih hebat dari anak buahnya, siapa pun akan percaya kalau ide brilian yang ia presentasikan itu bukan hasil curian. Sayang, saya dan beberapa teman sekantor dulu tak pernah berani membayangkan melakukan balas dendam. Bukannya wacana itu tak pernah ada. Makan siang adalah saat yang paling asyik untuk membahas apa yang layak diterima bos model begini.
Saya sendiri tak tahu, apakah "Nine to Five" pernah mampir di layar lebar lokal. Yang pasti ini film box office di masanya. Ceritanya simpel saja, tentang Franklin M. Hart (Dabney Coleman) seorang bos laki-laki yang seksis, manipulatif, munafik, eksploitatif yang diculik oleh tiga bawahannya : Violet Newstead (Lily Tomlin), sang office manager; Judy Bernly (Jane Fonda) pegawai baru yang aktraktif, sekaligus janda muda yang sedang mulai kembali bekerja - calon korban bos yang sempurna; lalu Doralee Rhodes (Dolly Parton) sang sekretaris seksi yang merupakan obyek libido sang bos. Bertiga, mereka menyandera untuk mendapatkan persamaan hak dan tunjangan. Sesederhana itu. Sederhana dengan kelucuan disana-sini, terutama dengan hadirnya Dolly Parton yang bermain dengan sangat lucu dan prima.
Meski ringan, tapi "Nine to Five" bisa memberi pencerahan bagi para pegawai yang tertekan - tanpa harus melakukan aksi balas dendam... kecuali kalau memang sudah dirasa diperlukan.
Tapi ini kisah klasik. klise dan klasik. Saya rasa hampir semua pegawai atau mantan pegawai pernah mengalaminya. Jauh sebelum "Devil Wears Prada"(2006) atau "Horrible Bosses" (2011), kisah-kisah tentang bos licik, kejam, psycho, manipulatif, eksploitatif sudah menyelip diantara deretan film lain. Saya pernah punya bos perempuan yang licik, manipulatif dan curang mirip di film Working Girl (1988). Katharine Parker (Sigourney Weaver), seorang perempuan muda yang sudah jadi bos.
Katharine Parker , selintas adalah bos yang sempurna. Masih muda, cantik, fashionable, dan terlihat atentif pada anak buahnya. Itu belum termasuk karirnya yang mencorong saat kantornya merger dengan sebuah firma besar di Wall Street. Dan muncullah Tess McGill (Melanie Griffith), seorang sekretaris yang sedang mencoba meng-upgrade karirnya. Tess yang penampilannya norak lengkap dengan rambut singanya, dan suaranya yang kekanakan bak anak ABG, membuatnya tak sering direken. Padahal dibalik penampilannya itu Tess agresif, pintar bahkan punya banyak ide untuk mendatangkan uang untuk kantornya.
Suatu kali sang bos kecelakaan saat berlibur main ski, dan Tess yang ditugaskan mengurus pekerjaan, tanpa sengaja melihat sebuah file penting. Penting lantaran itu idenya yang diklaim oleh Katharine. Tess mendadak mengumpulkan keberanian untuk melawan bosnya dengan mempresentasikan idenya itu... sendiri? Tidak juga, lantaran ia bertemu Ted Trainer (Harrison Ford), pegawai dari firma tetangga yang juga berkepentingan membuat deal yang sempat ditawarkan oleh Katharine. Ini membuat seolah melakukan balas dendam yang sempurna, lantaran Ted juga punya hubungan agak spesial dengan Kat.
Tapi wacana dan rencana-rencana yang sudah menari-nari di kepala tak pernah terwujud hingga kami keluar dari kantor itu satu persatu. Belakangan saya bertemu dengan salah satu teman lama dari kantor tersebut, sambil mengenang masa lalu, kami sedikit kecewa...andai saja dulu kami sempat nonton "Nine to Five" (1980), ada kemungkinan kami akan punya rencana yang lebih sempurna, dan keberanian untuk beraksi.
Meski ringan, tapi "Nine to Five" bisa memberi pencerahan bagi para pegawai yang tertekan - tanpa harus melakukan aksi balas dendam... kecuali kalau memang sudah dirasa diperlukan.


Comments
Post a Comment