CUT TO : CUNNILINGUS
Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja saya membaca tentang protes seorang aktris muda yang adegan seksnya dipotong oleh lembaga sensor film Amerika. Sang aktris, Evan Rachel Wood, mengatakan bahwa ada standar ganda, kenapa dalam film, perempuan boleh dibunuh atau diperkosa, tapi tidak boleh diperlihatkan saat ia menikmati seksualitasnya. Ia bahkan mengatakan : "This is a symptom of society that wants to shame women and put them down for enjoying sex. Accept that women are sexual beings.” O ya, adegan yang dipotong dari film "Charlie Countryman" (2013) yang dibintangi Wood ini adalah saat karakter yang ia perankan menerima 'cunnilingus' alias seks oral dari kekasihnya. Dan kita tidak sedang membicarakan film biru.
Para kritikus mengatakan cunnilingus di film secara de facto menjadikan film itu sebuah arthouse, bukan film mainstream. Kedengarannya cukup aneh. Apa bedanya adegan cunnilingus dengan fellatio? Selama ini, tampaknya memang begitu banyak adegan seks oral adalah milik laki-laki di film-film mainstream. Dari film tanpa mikir macam "Mallrats" (1995), hingga yang paling ekstrem "The Brown Bunny" (2003). Bahkan film pemenang Oscar 2005 "Crash" pun 'menyiratkan' adegan tersebut. Secara gampangan, adegan fellatio boleh ada dimana-mana, tanpa harus mengotakkan jenis (komersial) filmnya. Atau, tonton saja film-film Pedro Almodovar yang nyaris tak pernah absen menampilkan fellatio. Dan, o ya, tentu saja karya-karya Almodovar hampir semuanya bermutu, unik, dan... arthouse.
Bisa jadi cunnilingus di film hanya dapat (sedikit) diterima untuk karakter-karakter yang dianggap oversexed dan berbahaya, bahkan sakit jiwa. Faktanya begitu, karakter-karakter perempuan oversexed yang terkenal adalah sluts, psycho, atau minimal bitches. Si jenius gila Catherine Tramell (Sharon Stone) dalam "Basic Instinct" (1992) adalah salah satu contoh termudah. Atau si psikopat Alex Forrest (Glenn Close) dalam "Fatal Attraction" (1987) -- yang lucunya, karakter Alex Forrest menduduki rangking no 8 dari 100 greatest movie hero & villain sepanjang masa versi American Film Institute. Selanjutnya, masih ada Meredith Johnson (Demi Moore) dalam "Disclosure" (1994), bos perempuan yang melakukan 'pemanfaatan seksual' pada anak buahnya. Dan, tentu saja kita tak bisa melupakan si licik yang super panas dan seksi : Matty Walker (Katerine Turner) dalam "Body Heat" (1981), yang bukan hanya bisa menciptakan twist dengan pikirannya tapi juga badannya.
Lalu pertanyaannya apakah : karakter perempuan 'normal' sebaiknya tidak usah menerima cunnilingus? Dan kalaupun 'terpaksa' iya, apakah akhir dari kisah mereka 'harus' tak bahagia? Diane Lane, setidaknya dua kali 'mengalaminya'. Pertama dalam "Walk on the Moon" (1999), yang mengisahkan seorang istri yang bosan dengan kehidupannya, yang lantas menjalin hubungan panas dengan seorang salesman seksi yang tak berhenti menggodanya. Dalam "Unfaithful" (2002), Lane ada dalam kisah yang nyaris serupa, hanya saja dengan setting dan kondisi yang berbeda, serta lebih panas dan beresiko. Dan, ia berakhir dengan tak bahagia -- setidaknya tidak seperti yang diinginkan penonton -- ia adalah perempuan biasa yang harus menerima konsekuensi moral atas perbuatannya, sialnya dalam hal ini termasuk menikmati bercinta. Cindy (Michelle Williams) dalam "Blue Valentine" (2010), perempuan baik-baik yang kisah cintanya rumit dan menerima cunnilingus, juga berakhir dengan dilema. Bukan happy ending.
Sementara itu, katanya karakter pria yang memberi cunnilingus pada wanita disebut macho karena dianggap menggambarkan pengabdian cinta, dan maskulinitas, seperti yang dilakukan Michael Fassbender pada Penelope Cruz dalam "The Counselor" (2013) -- yang seolah ingin menunjukkan : lihat laki-laki itu goes down on his lover, and he's still not emasculated! Yang lucu, tak semua karakter perempuan yang mendapat perlakuan tersebut lantas digambarkan menikmati, tapi cukup tampak 'bersyukur' saja karena ada laki-laki yang 'mengabdi' tadi.
Akhirnya, kesimpulan sementara : bahkan 'sekedar' di film, pria bisa mendapatkan segalanya : harta, tahta, wanita hingga selamat dari neraka. Tapi sekedar untuk mendapat sebuah 'pleasure' saja, perempuan harus mendapat guntingan. Hanya cut to, atau cut?
Para kritikus mengatakan cunnilingus di film secara de facto menjadikan film itu sebuah arthouse, bukan film mainstream. Kedengarannya cukup aneh. Apa bedanya adegan cunnilingus dengan fellatio? Selama ini, tampaknya memang begitu banyak adegan seks oral adalah milik laki-laki di film-film mainstream. Dari film tanpa mikir macam "Mallrats" (1995), hingga yang paling ekstrem "The Brown Bunny" (2003). Bahkan film pemenang Oscar 2005 "Crash" pun 'menyiratkan' adegan tersebut. Secara gampangan, adegan fellatio boleh ada dimana-mana, tanpa harus mengotakkan jenis (komersial) filmnya. Atau, tonton saja film-film Pedro Almodovar yang nyaris tak pernah absen menampilkan fellatio. Dan, o ya, tentu saja karya-karya Almodovar hampir semuanya bermutu, unik, dan... arthouse.
Bisa jadi cunnilingus di film hanya dapat (sedikit) diterima untuk karakter-karakter yang dianggap oversexed dan berbahaya, bahkan sakit jiwa. Faktanya begitu, karakter-karakter perempuan oversexed yang terkenal adalah sluts, psycho, atau minimal bitches. Si jenius gila Catherine Tramell (Sharon Stone) dalam "Basic Instinct" (1992) adalah salah satu contoh termudah. Atau si psikopat Alex Forrest (Glenn Close) dalam "Fatal Attraction" (1987) -- yang lucunya, karakter Alex Forrest menduduki rangking no 8 dari 100 greatest movie hero & villain sepanjang masa versi American Film Institute. Selanjutnya, masih ada Meredith Johnson (Demi Moore) dalam "Disclosure" (1994), bos perempuan yang melakukan 'pemanfaatan seksual' pada anak buahnya. Dan, tentu saja kita tak bisa melupakan si licik yang super panas dan seksi : Matty Walker (Katerine Turner) dalam "Body Heat" (1981), yang bukan hanya bisa menciptakan twist dengan pikirannya tapi juga badannya.
Lalu pertanyaannya apakah : karakter perempuan 'normal' sebaiknya tidak usah menerima cunnilingus? Dan kalaupun 'terpaksa' iya, apakah akhir dari kisah mereka 'harus' tak bahagia? Diane Lane, setidaknya dua kali 'mengalaminya'. Pertama dalam "Walk on the Moon" (1999), yang mengisahkan seorang istri yang bosan dengan kehidupannya, yang lantas menjalin hubungan panas dengan seorang salesman seksi yang tak berhenti menggodanya. Dalam "Unfaithful" (2002), Lane ada dalam kisah yang nyaris serupa, hanya saja dengan setting dan kondisi yang berbeda, serta lebih panas dan beresiko. Dan, ia berakhir dengan tak bahagia -- setidaknya tidak seperti yang diinginkan penonton -- ia adalah perempuan biasa yang harus menerima konsekuensi moral atas perbuatannya, sialnya dalam hal ini termasuk menikmati bercinta. Cindy (Michelle Williams) dalam "Blue Valentine" (2010), perempuan baik-baik yang kisah cintanya rumit dan menerima cunnilingus, juga berakhir dengan dilema. Bukan happy ending.
Sementara itu, katanya karakter pria yang memberi cunnilingus pada wanita disebut macho karena dianggap menggambarkan pengabdian cinta, dan maskulinitas, seperti yang dilakukan Michael Fassbender pada Penelope Cruz dalam "The Counselor" (2013) -- yang seolah ingin menunjukkan : lihat laki-laki itu goes down on his lover, and he's still not emasculated! Yang lucu, tak semua karakter perempuan yang mendapat perlakuan tersebut lantas digambarkan menikmati, tapi cukup tampak 'bersyukur' saja karena ada laki-laki yang 'mengabdi' tadi.
Akhirnya, kesimpulan sementara : bahkan 'sekedar' di film, pria bisa mendapatkan segalanya : harta, tahta, wanita hingga selamat dari neraka. Tapi sekedar untuk mendapat sebuah 'pleasure' saja, perempuan harus mendapat guntingan. Hanya cut to, atau cut?




Comments
Post a Comment