DVD Bajakan versus 21


Tengah malam dikejutkan telpon dari seorang teman baik saya. “Kabar buruk!”, begitu teriaknya. Jelas, saya jadi deg-degan. Ada apa ini, pikir saya dalam hati. Lalu, dia melanjutkan : “Bakal susah nyari film bagus. Dua pabrik DVD bajakan kena raid kemarin.”

Ya, ini jelas kabar buruk. Bagi saya. Dan barangkali, teman-teman penggemar film lainnya.

Bukannya kami cinta barang bajakan. Dalam tapi ‘kasus’ DVD ini, apa boleh buat, dvd bajakan tetap menjadi andalan tontonan yang ‘penting’. Lha, DVD asli harganya mahal, rata-rata 99 ribuan per judul, bahkan ada yang di atas 200 ribuan. Sialnya, selain mahal, film yang dirilis kebanyakan  film-film mainstream. Susah mencari film-film festival atau klasik, atau film non-Hollywood yang langka.

Belakangan, muncul dvd resmi yang lebih ekonomis, harganya mulai 15 – 25 ribu rupiah per judul. TAPI, selain lagi-lagi judul yang itu-itu saja, sensornya juga sangat kejam. Bukan hanya tak artistik tapi juga bikin penonton kehilangan selera dan jalan cerita.

Contoh : dalam “Last Night” (2000), saat Eva Mendes nyemplung ke kolam renang, ngobrol sama Sam Worthington, adegan berubah menjadi pemandangan malam hari yang statis,  dengan background audio dialog antara 2 orang ini. Mending kalau sebentar. Lalu setelah itu, adegan sudah pindah ke lokasi lain. Sangat mengganggu. Bukankah saat di rumah, DVD sudah menjadi ranah pengawasan orang yang lebih dewasa? Bahkan, bila dibanding acara TV yang tinggal ganti channel, atau pornografi di internet, DVD sebenarnya termasuk lebih susah diakses anak-anak.

DVD bajakan, nyaris tak mengenal sensor untuk adegan telanjang, atau seks. Telanjang yang artistic dan kontekstual, menurut saya merupakan bagian penting sebuah film. Saya jadi ingat, bertahun silam, saat nonton sebuah film di acara film festival internasional di Jakarta, sebuah adegan close-up ciuman disensor secara manual.

Lantaran pihak ‘tukang sensor resmi’ tidak sempat menggunting adegan tersebut, lalu ‘tukang proyektornya’ disuruh menutupi adegan 1-2 menit itu dengan kertas. Sangat ‘artistik’ tentu saja. Mendadak serasa kembali hidup di jaman Orba… di mana sebuah acara tertutup dan terbatas, (seharusnya) berseni, berubah menjadi hambar, hanya gara-gara sebuah karya seni dianggap kurang melek moral.

Nonton bioskop adalah cerita yang serupa tapi tak begitu sama. Film-film yang diputar kalau nggak horror, action ya komedi slapstick. Judulnya pun terbatas, itu-itu saja. Kalau ada film bagus atau art, hanya sesekali, dan itu jarang sekali laku, akibatnya hanya 2-3 hari sudah ‘turun’ alias nggak main. Lagi-lagi, satu-satunya jalan keluar untuk memuaskan keinginan nonton film ‘langka’ ya lagi-lagi lewat DVD bajakan.

Sejak 21Cineplex menerapkan bisnis monopoli bioskop di tahun 1990an, satu per satu bioskop-bioskop kecil, lantas besar mati. Dibunuh, lebih tepatnya. Banyak yang dibakar bahkan. Bos 21 kala itu, saudara jauh Soeharto beserta rekanannya : beberapa bos film berdarah India – yang kini menjadi bos pelaksana 21, membayangkan sebuah jaringan bioskop dengan brand yang sama di seluruh Indonesia.

Sialnya, ketika infrastruktur bioskop terbangun di mana-mana, bisnis tak sepanas sebelumnya. Film-film yang mereka datangkan rupanya banyak yang box office (di Indonesia). Padahal di awal-awal bisnis ini, mereka merasa telah memilih film-film yang bakalan laris dan jadi bahan omongan. Tapi, ternyata hanya bertahan beberapa tahun saja di kota-kota besar. Mereka semula mempersulit film lokal tayang, lama-lama beralih haluan. Sialnya, sekarang film-film lokal yang diputar hanya seputar setan dan selangkangan setan, atau komedi murahan yang bikin meringis bukan tertawa.

Sungguh naïf, kalau saya bilang ini adalah karma. Karena bukan hanya mematikan bioskop-bioskop kecil dengan pangsa mereka masing-masing, tapi juga membunuh budaya menonton (bioskop). 21 berhasil mengubah image bioskop menjadi tempat nongkrong kelas menengah ke atas. Dingin, bersih – bahkan berkesan ‘steril’, cukup mahal, dengan jajanan yang tak kalah mahal. Masuk bioskop adalah gaya, bahkan barangkali juga trendy. 

Tapi mereka tak pernah bisa mengembalikan antusias masyarakat segala lapisan untuk nonton.  Tak ada lagi film-film non-Hollywood yang dulu membuat semua orang kenal Alain Delon atau Brigitte Bardot, atau Sophia Loren pada masanya.  Tak ada lagi, keluarga kelas menengah ke bawah yang ingin nonton film di bioskop murahan yang kadang bangkunya berderit, sambil makan jajanan super murah : kwaci.

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya pada 21 yang membuat tak ada lagi yang namanya budaya nonton di Indonesia.  Padahal, ini yang membuat bisnis film Bollywood maju : budaya nonton. Bahkan kakek-kakek di desa pun masih menikmati goyangan Shahruh Khan di layar tancap. Akibatnya, tak heran, bila India bisa memproduksi ratusan film per tahunnya. Dan jadi komoditi pula.

Jangan salahkan tukang bajak untuk ketidaklakuan film yang diputar. Jangan salahkan penonton yang ingin tontonan bermutu atau berseni yang terpaksa beli DVD bajakan. Dunia sudah berubah? No?


Comments

Popular posts from this blog

SYMPATHY FOR THE VICTIMS

se7en