ROMA, Mahakarya dari Kenangan Pembantu Rumah Tangga

ROMA (2018)
Meski bukan film box office, bahkan 'hanya' produksi Netflix yang diputar terbatas - selain streaming, tapi ROMA adalah masterpiece. Ini juga bukan 'kisah besar', malahan ROMA adalah cerita satu dalam tahun dalam kehidupan seorang asisten rumah tangga bernama Cleo. Tapi bagi saya, film ini lebih menyentuh, bahkan lebih menusuk ketimbang biopic/ penggalan kisah hidup orang-orang penting atau orang-orang ternama. ROMA adalah kisah sehari-hari, tentang cinta, sakit hati, pengkhianatan, dan akhirnya kasih sayang tanpa syarat. Dan kalau mau bicara soal rasial, ROMA dengan sangat halus justru menyiratkan anti rasial dan perbedaan kasta itu dengan sangat alami.


Berseting Mexico City September 1970 hingga Juni 1971, tentang Cleo, perempuan muda yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai ART di keluarga dokter Antonio dan istrinya, Senora Sofia beserta keempat anak mereka: Tono, Paco, Sofi dan Pepe. Di rumah itu juga tinggal sang nenek Teresa, Adela - satu orang pembantu lainnya, dan seorang sopir, plus Borras, anjing kesayangan keluarga yang hobi buang kotoran sembarangan. Para pembantu dan sopir ini, terutama Cleo sudah seperti menyatu dengan keluarga sang dokter, terutama anak-anaknya yang sangat dekat dengannya. 
Di waktu senggang, Cleo dan Adela, seperti halnya anak muda lainnya, menyempatkan diri jalan-jalan ke pusat kota, termasuk menikmati bioskop. Adele yang sudah berpacaran dengan Ramon, memperkenalkan Cleo pada Fermin, salah satu teman Ramon. Kalau Adele dan Ramon memilih menonton film, Fermin punya ide lain: mengajak Cleo ke motel.


Beberapa bulan berlalu, dan Cleo mendapati dirinya sudah tak datang bulan. Tapi ketakutannya kalau-kalau akan dipecat bosnya sirna, ketika Sofia malah mengajak Cleo untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Sementara itu Sofia mulai curiga suaminya yang sedang bertugas ke Kanada tidak pernah benar-benar ke sana. Toh kehidupan dua perempuan ini harus berlanjut, ketika Natal, saat perut Cleo semakin membesar dan kecurigaan Sofia kalau Antonio berselingkuh memuncak, mereka 'melarikan diri dari kenyataan' dengan berlibur ke rumah saudara Sofia di pedesaan. Tapi selepas tahun baru, mereka harus kembali ke Mexico. Dan Cleo pun mencoba mencari keberadaan Fermin, yang saat ditemui dengan kasar mengatakan tak mungkin Cleo hamil bayinya. "Dasar pembantu!" teriak Fermin padanya sambil berlalu.


Saat festival Corpus Christi, Teresa mengajak sang sopir untuk mengantar Cleo mencari tempat tidur bayi di pusat kota, mereka tak pernah menyangka terjadi bentrokan antara tentara dan demonstran yang dikenal sebagai "El Halconazo," atau the Corpus Christi Massacre. 120 orang meninggal di peristiwa tersebut. Beberapa demonstran merangsek ke dalam toko, dan dikejar tentara elit berpakaian preman. Mereka menembaki demonstran dengan dingin di depan para pelanggan toko tersebut. Salah satu di antara penembak tadi adalah Fermin, yang untuk beberapa saat terpaku saat melihat ada Cleo di situ. Di saat yang sama, air ketuban Cleo pecah karena yang sangat terkejut dan ketakutan.


Bertiga mereka harus melewati kemacetan dan kerusuhan yang menjalar ke sebagian wilayah kota menuju rumah sakit. Cleo sendiri tak sepenuhnya sadar kalau ia sedang berhadapan dengan ironi dan tragedi, sebuah peristiwa yang menjadi titik balik hidupnya saat itu.
Beberapa waktu setelah Cleo sudah kembali ke rumah, Sofia menjual mobil suaminya, menggantinya dengan mobil baru yang ukuran lebih pas untuk garasi mereka. Sofia lantas mengajak keempat anaknya dan Cleo berlibur. "Cleo, jangan kawatir... kita kaum perempuan tetap akan hidup meski hanya sendiri," begitu ujar Sofia saat mabuk, menjelang liburan mereka. Sebuah liburan yang merubah masa depan keenam orang tadi.

ROMA adalah 'tribut' kisah nyata pembantu keluarga Cuaron, Lido, yang hingga kini masih hidup dan masih 'mengabdi' pada keluarga itu. Cuaron sendiri di dalam film digambarkan sebagai Paco, anak ke dua keluarga Sofia. Sang sutradara rupanya sangat mencintai pengasuhnya tersebut, sehingga beberapa kali Lido yang asli ini ia tampilkan sebagai figuran dalam film-filmnya. Ia sendiri sudah sejak tahun 2006 memikirkan proyek ROMA ini. Tak perlu heran kalau Cuaron menyebutnya sebagai film yang paling personal dan sekaligus paling penting sepanjang karirnya sejak tahun 1983.


ROMA hadir sebagai film yang komplit, sensitif, menyentuh, halus, tanpa harus meletup-letup namun sangat powerful. Semua adegan tampil natural, believable dan mengundang emosi. Tak perlu ada adegan menangis kejang-kejang atau kemarahan yang berlebihan ala sinetron. Namun semuanya hadir dengan indah dan pas. Film ini membuktikan Alfonso Cuaron ("Y Tu Mama Tambien", "Gravity") adalah virtuoso, ia tahu sekali apa yang sedang ia mainkan, termasuk sebagai DOP sendiri di film ini. Gambar-gambar hitam putih dalam ROMA ini penuh dimensi dan hidup. Bukan lagi sekadar sinematografi yang indah. Di saat kumuh dan becek kita bisa melihatnya. Di saat jorok kita ikut jijik. Di saat kerusuhan berlangsung film yang semula 'mengalir tenang' terasa begitu bertenaga, ada kengerian dan kekacauan di sana. Debu, rumput, asap semua bisa dirasakan indra kita karena begitu nyatanya.


Dengan pembuatannya yang murah, hanya 15 juta dolar (kecil untuk ukuran produksi Netflix/ Hollywood), tapi rumit, termasuk hanya untuk sebuah adegan saat Cleo mematikan lampu demi lampu di rumah majikannya, memerlukan 45 posisi kamera! Cuaron juga membuat set yang sangat menyerupai masa kecilnya di tahun 1970/ 1971 silam. Adegan-adegan di rumah sakit memakai dokter dan perawat asli demi hasil yang menyakinkan. Dan, jangan lupa bayangan-bayangan pesawat melintas pada opening title, saat Fermin berlatih bela diri dan pada ending film. Barangkali hanya Cuaron dan David Fincher yang bisa membuat film sedetail ini. 
Semua aktor, terutama Yalitza Aparicio pemeran Cleo bermain sangat bagus, natural dan menjwai karakternya. Aparicio yang aslinya guru TK ini terpilih dari 110 kandidat yang ikut audisi tanpa tahu karakter apa yang akan ia perankan bila terpilih nanti. Casts lainnya juga bermain alami. Keluarga sang dokter selain berwajah mirip juga chemistry mereka menyakinkan sebagai kakak-adik, ibu- anak dengan pembantu kesayangan mereka. Lebih gilanya lagi, Cuaron tak membagikan naskahnya ke semua pemain. Tiap hari ia akan memberi brief dan dialog mereka di set sebelum pengambilan gambar, demi emosi natural yang ingin ia dapatkan.


Memperoleh tiga Oscar minggu lalu untuk film berbahasa asing terbaik, sinematografi dan penyutradaraan terbaik. Oscar masih tak rela 'perusahaan film streaming' macam Netflix memenangkan Oscar (ini ada kisahnya tersendiri). Padahal dari banyak sisi, ROMA jauh lebih dashyat ketimbang GREEN BOOK. Kritik memberinya nilai 96/100, majalah Time menyebutnya sebagai film terbaik, dengan mengatakan "an ode to the power of memory, as intimate as a whisper and as vital as the roar of the sea". Memang kadang kritik tak sejalan dengan penonton, tapi menurut saya hanya orang yang punya hati yang tak tergerak saat menonton ROMA. Film ini luar biasa.

Comments

Popular posts from this blog

SYMPATHY FOR THE VICTIMS

se7en

DVD Bajakan versus 21