SEORANG PEREMPUAN BIASA BERNAMA SITI
Bagi Siti, red carpet itu berupa
hamparan gundukan pasir di sepanjang pantai Parangtritis - Yogyakarta. Dan spotlight-nya ada di tengah bilik
karaoke murahan, di mana hampir setiap malam ia menjadi primadona. Siti, bukan super model, bukan pula bintang sinetron. Ia hanya bintang di
rumahnya sendiri, dan di karaoke tempatnya bekerja.
Ibu satu anak itu dibebani suami yang lumpuh dan hutangnya yang menumpuk.
Bagus, suaminya yang sehari-harinya adalah nelayan konon lumpuh setelah
kecelakaan akibat melaut. Belakangan, Bagus juga mogok bicara‘ setelah tahu
Siti bekerja di sebuah karaoke. Padahal
Siti terpaksa melakukan pekerjaan barunya itu demi membiayai keluarga mereka.
Penghasilannya di siang hari sebagai penjual rempeyek jingking bersama ibu
mertuanya di pantai Parangtritis tentu saja jauh dari cukup.
Suatu kali, karaoke tempatnya bekerja digrebek. Saat pemeriksaan, tanpa
sengaja Siti berkenalan dengan Gatot, polisi muda ganteng yang lantas jatuh
cinta padanya. Di bawah tekanan ekonomi, frustasi pada suaminya yang tak mau
membuka mulutnya, pada suatu malam setelah mendapatkan sejumlah uang untuk membayar
hutang suaminya, Siti pun menentukan sendiri takdir hidupnya.
Siti barangkali bukan sosok urban yang akan ditemui di belantara
kosmopolitan. Meski jelas, kisah Siti sama sekali tak asing dan bisa saja ada
di mana-mana.
Film garapan Eddie Cahyono ini tampil hitam putih dan abu-abu. Karena
menurutnya, begitulah hidup Siti : tanpa warna. „Siti“ yang sempat diputar di
Singapore International Film Festival 2014 adalah harapan di perfilman
Indonesia yang dipenuhi film-film horor kacangan. Dengan directing yang kuat dan akting yang cukup
bagus dari para aktornya, „Siti“ justru tampil penuh rona. Dan yang paling istimewa, barangkali
keberanian Eddie membuat film ini dalam bahasa Jawa, yang memberi warna sangat
Indonesia.
(as seen on Dewi Magazine Feb 2015)


Comments
Post a Comment