HIDDEN PLEASURE


Film pertama yang saya tonton di bioskop adalah King Kong (versi 1976). Saya tidak pernah lupa. Saat itu demam King Kong sudah ada dimana-mana. Malahan saat mau nonton pun saya mengenakan kaos lengan panjang dengan sablon muka King Kong di bagian depannya. Warnanya krem. Sementara adik laki-laki saya mengenakan versi King Kong sedang berdiri di Empire State Building. Warnanya biru muda (jauh lebih bagus sebenarnya ketimbang punya saya). Dan kami pun berangkat nonton dengan 'gaya'. 

Namun 'gaya' saja ternyata tak cukup jadi bekal untuk anak-anak kecil, ditengah-tengah film, adik saya ketakutan saat adegan King Kong akan muncul untuk kedua kalinya, dan terpaksa pulang. Tapi, saya meskipun juga mulai sedikit gemetaran, rasa penasaran saya mengalahkan ketakutan, dan memutuskan akan pulang dengan tetangga yang sudah dewasa hingga film selesai. 

Film King Kong adalah pengalaman pertama yang tak terlupakan. Berminggu-minggu saya tak pernah lupa wajah menangis King Kong saat dikurung. Berminggu-minggu pula, fantasi saya mulai liar. Seperti membayangkan kalau-kalau mendadak tangan raksasa King Kong masuk lewat jendela kamar saya. Dan juga mulai berpikir, apa betul duri ikan bisa dijadikan sisir. 



Sejak saat itu, saya sadar atau tidak, sebenarnya saya sudah jatuh cinta pada film. Diajak nonton adalah hal yang paling saya tunggu-tunggu, melebihi banyak hal lainnya. Sekalipun saya kadang tak mengerti persis apa yang saya tonton - dan baru ngeh bertahun-tahun setelahnya. 

Saya juga masih ingat, rasanya setiap kali lewat gedung bioskop, yang paling saya nikmati adalah melihat deretan poster yang dipajang, terutama 'coming soon'nya. Selain, berharap akan ada film yang boleh ditonton segala usia. Lalu menyisihkan uang jajan yang tak seberapa demi tiket nonton. Ketika agak besar, saya sering memanfaatkan adik saya yang masih balita sebagai 'sangu' nonton. Caranya gampang : minta uang untuk beli tiket dengan alasan menjaga adik. Dan ini sering berhasil. Minimal film-film untuk anak-anak kecil yang diputar saat itu nyaris saya tonton semua. 

Ketika agak besar lagi, saya mulai 'iri' pada kakak kelas saya yang sudah SMP dan boleh nonton film untuk 13 tahun keatas. Apa boleh buat, review film remaja yang saat itu saya baca di majalah Hai membuat saya pengen nonton The Outsiders atau Flashdance, tapi tentu saja ditolak karena penampilan saya yang telat berkembang jauh dari penampakan ABG normal. Sial. 



Lalu era VHS datang. Dan ini menjadi daya tarik tambahan untuk membolos. Dengan alasan sakit amandel saya berhasil berkali-kali bolos untuk mencari film baru yang bisa ditonton. E.T., atau The Karate Kid salah satunya. Aneh, saya mungkin puluhan kali menonton film itu pada masanya tanpa bosan sedikitpun. Padahal jelas Mr. Miyagi tak pernah berganti wejangan, dan Daniel San juga tak pernah mendadak jadi jagoan. Tapi The Karate Kid tentu jauh lebih menarik ketimbang pelajaran-pelajaran yang saya benci seperti elektronika, atau matematika, atau fisika. Saya ibaratkan kalau nonton di bioskop itu pelajaran yang diberikan oleh guru, nah nonton video adalah untuk lebih memperdalam ilmunya - bahkan bisa memperluas wawasan. 

Dan, tentu saya tetap menikmati bioskop 'pra-21' seperti semula.  Nonton umpel-umpelan di kelas II, duduk di kursi yang kadang ada kecoaknya, lempar-lemparan kulit kacang atau jajan saat istirahat adalah romantika yang luar biasa. Harusnya era penonton Theatre 21 sekarang iri, karena sekarang semuanya serba 'steril', dan menonton bioskop hanya menjadi pengisi waktu luang atau karena tak mau disebut ketinggalan. Beda jaman dulu, ketika menonton menjadi bagian dari budaya, dan sumber hiburan yang menurut saya... penuh dimensi yang tak ada tandingannya.  

Ya, saya menikmati menonton film mungkin melebihi orang pada umumnya. Tak jarang saya menemukan hal-hal baru di film, yang tak saya jumpai di tempat atau media lainnya. Bahkan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya.  Apa boleh buat, bagi saya film bukan sekedar tontonan tapi juga  hidden treasure dan akhirnya : hidden pleasureTentu saja, bagi sebagian orang saya dianggap aneh, gila dan bahkan menyebalkan.  Namun saya percaya, film yang bagus bukan hanya akan menghibur, tapi juga insightful. Pada tulisan-tulisan berikut, selain akan ada review dari sudut pandang saya,  saya juga akan coba sedikit buktikan kalau (banyak) films imitate our life, dan mungkin juga sebaliknya tentu saja. Selamat menonton...eh, membaca. 

Comments

Popular posts from this blog

SYMPATHY FOR THE VICTIMS

se7en

DVD Bajakan versus 21